12 Kali Erupsi Strombolian, Gunung Anak Krakatau Tetap Level Siaga

Erupsi Anak Gunung Krakatau

DEKANNEWS - Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) masih mempertahankan status Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda pada level III atau siaga. Keputusan tersebut diambil karena aktivitas vulkanik gunung api itu masih tergolong tinggi dan potensi terjadinya letusnn dalam waktu mendatang masih besar.

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria mengatakan aktivitas Gunung Anak Krakatau terus dipantau dan dievaluasi. Meski erupsi menerus yang berlangsung sekitar 25 jam telah berakhir, aktivitas erupsi hingga kini masih terdeteksi.

Berdasarkan evaluasi hingga Rabu (9/9/2026) pukul 06.00 WIB, Badan Geologi mencatat telah terjadi 12 kali erupsi Strombolian sejak episode erupsi menerus berakhir pada 6 September 2026 pukul 00.04 WIB.

“Probabilitas unytuk terjadi letusan dalam beberapa periode waktu selanjutnya masih tinggi,” demikian keterangan dalam evaluasi Badan Geologi yang dikutip, Rabu (9/9/2026).

Sebelumnya, episode erupsi menerus Gunung Anak Krakatau berlangsung sejak 4 September 2026 pukul 23.07 WIB hingga 6 September 2026 pukul 00.04 WIB. Aktivitas tersebut berlangsung sekitar 25 jam sebelum kemudian berubah menjadi erupsi Strombolian.

Badan Geologi menginterpretasikan kermbalinya erupsi Strombolian sebagai tanda berakhirnya episode erupsi menerus yang cukup panjang. Namun, perubahan karakter erupsi tersebut belum dapat diartikan bahwa aktivitas Gunung Anak Krakatau telah sepenuhnya mereda.

Dinamika vulkanisme Gunung Anak Krakatau masih menjadi perhatian karena potensi terjadinya letusan berikutnya tetap tinggi. Pemantauan pun terus dilakukan untuk melihat perubahan aktivitas gunung api tersebut.

Dari sisi instrumental, aktivitas kegempaan Gunung Anak Krakatau selama 8-9 September 2026 masih terekam. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa aktivitas vulkanik masih berkangsung meskipun energi yang terukur relatif rendah.

Badan Geologi mencatat enam kali gempa erupsi, satu kali gempa embusan, 50 kali gempa low frequency, 77 kali gempa hybrid atau fase banyak, satu kali gempa vulkanik dangkal, serta satu kali gempa vulkanik dalam. Tremor menerus juga masih terekam selama periode pemantauan.

Sementata itu, energi aktivitas vulkanik berdasarkan nilai perataan amplitudo RSAM masih berfluktuasi dengan energi rendah. Pengamatan tiltmeter di Stasiun Tanjung dan Lava93 juga menunjukkan kecenderungan mendatar.

Kondisi tersebut mengindikasikan aktivitas Gunung Anak Krakatau relatif konstan. Badan Geologi belum melihat adanya peningkatan maupun penurunan aktivitas yang signifikan berdasarkan parameter tersebut.

Secara visual, Gunung Anak Krakatau terpantau dari kondisi jelas hingga tertutup kabut. Cuaca di sekitar gunung api berkisar cerah hingga mendung dengan angin lemah hingga sedang yang bergerak ke arah utara dan barat laut.

Meski kolom erupsi tidak teramati ketinggiannya, aktivitas erupsi masih terlihat dalam penhamatan visual. Kondisi ini menjadi salah satu dasar bagi Badan Geologi untuk tetap mempertahankan status level III atau siaga.

Dengan status tersebut, masyarakat, wisatawan, pengunjung, dan pendaki dilarang memasuki maupun melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau. Masyarakat juga diminta mewaspadai potensi awan panas, aliran lava, lontaran batu pijar, serta hujan abu lebat.

Untuk wilayah yang terdampak abu vulkanik, masyarakat dianjurkan mengurangi aktivitas di luar rumah. Apabila harus keluar, penggunaan masker disarankamn untuk mengurangi risiko gangguan pernapasan akibat paparan abu vulkanik.

Badan Geologi juga meminta masyarakat di pesisir Banten dan Lampung tetap tenang serta tidak mempercayai informasi yang menyebut erupsi Gunung Anak Krakatau akan menyebabkan tsunami. Aktivitas masyarakat masih dapat dilakukan seperti biasa dengan tetap mengikuti arahan BPBD setempat, sementara perkembangan Gunung Anak Krakatau akan terus dievaluasi secara berkala maupun sewaktu-waktu jika terjadi perubahan signifikan. (Zat)